Asal-Usul Nama Tengger: Antara Keteguhan Gunung, Luhur Budaya, dan Warisan Siwa–Budha Majapahit
Pendahuluan
Nama Tengger tidak hanya merujuk pada kawasan pegunungan di sekitar Bromo, tetapi juga pada identitas budaya dan spiritual masyarakat yang mendiami wilayah itu. Suku Tengger dianggap sebagai penjaga warisan terakhir Majapahit — bukan hanya secara geografis, tetapi juga dalam sistem kepercayaan dan pandangan hidupnya.
Namun, dari mana asal kata Tengger itu sendiri? Benarkah berasal dari kisah rakyat Rara Anteng dan Jaka Seger? Atau memiliki akar yang jauh lebih tua dalam bahasa Jawa Kuno dan sistem nilai Nusantara pra-Hindu?

Etimologi Kata “Tengger”
Secara linguistik, kata Tengger dapat ditelusuri ke dalam bentuk-bentuk bahasa Jawa Kuno dan Austronesia awal.
Dalam Kamus Jawa Kuna karya Zoetmulder (1982), ditemukan kata dasar tĕngĕh atau tĕnggĕh yang berarti tinggi, luhur, tegak, tetap, kokoh.[1]
Sementara itu, unsur ger diperkirakan berasal dari akar kata Proto-Austronesia gar/ger yang bermakna kekuatan, getaran, atau inti bumi.[2]
Dari sinilah muncul tafsir lokal yang cukup populer di kalangan tetua Tengger:
“Teng iku luhur, teguh, ora owah; ger iku kekuwatan, gunung, panguripan.”
(Teng berarti luhur dan teguh; ger berarti kekuatan dan gunung kehidupan.)
Dengan demikian, Tengger secara etimologis dapat dimaknai sebagai “yang teguh dan luhur seperti gunung”, sebuah simbol dari ketenangan, kemantapan, dan kesetiaan menjaga keseimbangan alam.
Makna Filosofis dalam Pandangan Masyarakat Tengger
Dalam wawancara lapangan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Timur (2011), seorang dukun adat Ngadas menjelaskan bahwa kata Tengger lebih dari sekadar nama tempat. Ia adalah pandangan hidup:
“Tengger iku teguh, ora owah, kudu njaga keluhuran.”
(Tengger itu teguh, tidak berubah, harus menjaga keluhuran.)
Filosofi ini kemudian menjadi fondasi etika sosial masyarakat Tengger: hidup selaras dengan alam, menghormati leluhur, dan menolak keserakahan duniawi. Prinsip itu tercermin dalam berbagai upacara seperti Yadnya Kasada, Unan-unan, dan Entas-entas.
Warisan Majapahit dan Ajaran Siwa–Budha
Masyarakat Tengger kerap disebut sebagai penyintas spiritual Majapahit.
Dalam masa keruntuhan Majapahit abad ke-15, banyak keluarga kerajaan dan pengikut ajaran Siwa–Budha melarikan diri ke pegunungan timur — termasuk Bromo dan Semeru.
Antropolog Hefner (1985) dalam Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam menjelaskan bahwa sistem keyakinan masyarakat Tengger tidak identik dengan Hindu Bali, melainkan Siwa–Budha sinkretik.[3]
Dalam sistem itu, Siwa dan Buddha tidak dianggap berlawanan, melainkan dua jalan menuju kesucian.
Hal ini juga ditegaskan oleh Haryati Subadio (1973) dalam Religiositas Jawa: Siwa-Budha, yang menulis bahwa Majapahit akhir melahirkan bentuk keagamaan yang khas Jawa:
“Sebuah bentuk sinkretisme spiritual yang memadukan asketisme Siwa dan welas asih Buddha.”[4]
Dengan demikian, Tengger bukanlah Hindu Bali, melainkan kelanjutan dari spiritualitas Majapahit yang bercorak Siwa–Budha Nusantara.

Perbedaan dengan Hindu Bali
Perbedaan paling nyata dapat dilihat dari struktur rumah dan tempat suci.
Di Bali, hampir setiap rumah memiliki pura pamerajan atau sanggah kemulan — tempat persembahan keluarga.
Namun di Tengger, tidak ada pura dalam rumah. Tempat persembahan utama hanya berada di Pura Luhur Poten, di kaki Gunung Bromo, yang berfungsi sebagai pusat pemujaan bersama, bukan pribadi.
Selain itu, upacara Yadnya Kasada adalah tradisi khas Tengger yang tidak dijumpai di Bali.
Kasada bukan sekadar persembahan kepada dewa, tetapi juga penghormatan kepada roh leluhur dan penjaga gunung (Brahma atau Bromo).
Sementara di Bali, ritual terbesar seperti Galungan dan Kuningan menekankan keseimbangan antara dharma–adharma dan arwah leluhur, bukan gunung sebagai pusat kosmos.[5]
Struktur Kepemimpinan Spiritual: Dukun dan Mangku
Pemimpin spiritual di masyarakat Tengger bukan pendeta brahmana seperti di Bali, melainkan dukun adat.
Istilah dukun di sini bukan dalam makna magis modern, tetapi berasal dari kata Jawa Kuno dhukun, akar katanya dhuk (menjaga, mendampingi).
Jadi dukun berarti penjaga tatanan suci, bukan penyembuh sihir.
Beberapa wilayah Tengger juga mengenal peran mangku (pemelihara pura), tapi peran tertinggi tetap dipegang oleh dukun adat desa.
Gunung Brahma dan Akar Kosmologinya
Gunung Bromo sendiri berasal dari kata Brahma, dewa pencipta dalam ajaran Siwa–Budha.
Dalam Weda kuno, Brahma berarti Yang Maha Mencipta, sumber segala kehidupan.
Namun di Tengger, pemaknaannya lebih luas — bukan penyembahan dewa berwujud, melainkan pemujaan terhadap kekuatan pencipta alam, yang dianggap sebagai bagian dari roh leluhur gunung.
Konsep ini sangat dekat dengan animisme Nusantara, di mana gunung adalah pusat jagad (poros dunia).
Bahasa dan Identitas: Dari “Rwang Puluh” hingga “Selawe”
Menariknya, masyarakat Tengger mempertahankan banyak unsur bahasa Jawa Kuno dalam percakapan sehari-hari.
Contoh seperti rwang puluh (dua puluh) atau sewidak (enam puluh) masih digunakan di desa-desa atas, sementara di Jawa umumnya sudah bergeser menjadi rong puluh dan enem puluh.
Ini menunjukkan konservasi bahasa dari periode Majapahit akhir, yang bertahan karena isolasi geografis dan kesadaran adat.[6]
Identitas Tengger dalam Catatan Kolonial
Dalam laporan Belanda abad ke-19, seperti yang ditulis oleh J. C. van Blom (1830) dan R. A. Kern (1939), masyarakat Tengger disebut “masih memegang agama leluhur Jawa” dan tidak tersentuh Islamisasi.
Catatan mereka menekankan bahwa ritual-ritual Tengger lebih menyerupai agama gunung, yaitu sistem penghormatan terhadap alam, roh leluhur, dan kekuatan pencipta — bukan penyembahan dewa-dewi antropomorfis seperti dalam Hindu India.[7]
Folklor Rara Anteng dan Jaka Seger
Meski secara etimologis kata Tengger sudah lebih tua, masyarakat modern mengenal versi legenda yang populer:
Tengger berasal dari gabungan nama (Ra)ra Anteng dan (Ja)ka Seger, dua tokoh mitologis pendiri komunitas Bromo.
Kisah ini hidup dalam tradisi lisan dan dipentaskan tiap tahun dalam Kasada sebagai mitos asal-usul manusia Tengger.
Namun, peneliti folklor James Danandjaja (1991) menilai kisah ini merupakan bentuk folk etymology — cara masyarakat menjelaskan asal nama dengan narasi moral dan genealogis, bukan linguistik.[8]
Dengan demikian, legenda Rara Anteng–Jaka Seger lebih berfungsi sebagai simbol kesetiaan dan pengorbanan leluhur, bukan asal kata sesungguhnya dari Tengger.
Penutup
Kata Tengger menyimpan lapisan makna yang dalam:
dari akar linguistik Jawa Kuno yang berarti “luhur dan teguh”,
dari warisan Majapahit yang memadukan Siwa–Budha,
hingga dari legenda Rara Anteng–Jaka Seger yang menjadi simbol kesetiaan.
Masyarakat Tengger bukan sekadar komunitas di lereng gunung — mereka adalah penjaga ingatan spiritual Jawa, benteng terakhir dari harmoni antara manusia, leluhur, dan alam.
✍️ Penulis: Tim WisataBromo.co
Catatan Kaki:
[1] P.J. Zoetmulder, Old Javanese-English Dictionary, 1982, Den Haag: Nijhoff.
[2] Blust, R. (2013). The Austronesian Languages, Asia-Pacific Linguistics.
[3] Hefner, Robert W. (1985). Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, Princeton University Press.
[4] Haryati Subadio, Religiositas Jawa: Siwa-Budha, 1973, Jakarta: Bhratara.
[5] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 1984.
[6] Zoetmulder & Robson, Kamus Jawa Kuna, 1982.
[7] R.A. Kern, Verspreide Geschriften over de Tengger, Leiden University Archives, 1939.
[8] James Danandjaja, Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain, 1991, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
