Asimilasi Ajaran Siwa–Budha: Warisan Majapahit yang Hidup di Tengger

(Bukan Hindu Bali, tapi Sinkretisme Jawa Kuno)
Agama dan kepercayaan masyarakat Tengger di lereng Gunung Bromo sering disalahpahami sebagai “Hindu Bali versi Jawa Timur”. Padahal secara historis, teologis, dan etnografis, Tengger adalah pewaris langsung tradisi Siwa–Budha Majapahit, bukan hasil penyebaran agama Hindu dari Bali.
Penyebutan “Hindu” pada masyarakat Tengger baru muncul pada era modern, ketika negara mewajibkan lima agama resmi dan komunitas Tengger harus memilih kategori administratif yang paling dekat dengan keyakinan mereka. Namun jika dilihat dari akar ritual, sistem kepercayaan, dan pandangan kosmosnya, ajaran mereka lebih tepat disebut Siwa–Budha Nusantara — bentuk sinkretik yang khas Jawa, hasil penyatuan antara spiritualitas Siwa dan ajaran Buddha Mahayana-Tantrayana yang berkembang pada abad ke-13 hingga 15 Masehi.
- Siwa–Budha sebagai Filsafat Kerajaan Majapahit
Dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular, muncul kalimat legendaris “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” — yang berarti “berbeda-beda namun satu juga, tidak ada kebenaran yang mendua.” Kalimat ini bukan slogan politik modern, melainkan cerminan teologi sinkretik Majapahit: Siwa dan Buddha dianggap dua jalan menuju hakikat kebenaran yang sama.
Haryati Subadio dalam Religiositas Jawa: Siwa-Budha (1973) menjelaskan bahwa di akhir masa Majapahit, batas antara dua sistem kepercayaan itu nyaris lenyap. Raja, pendeta, dan masyarakat menggabungkan dua aliran tersebut dalam satu sistem ritus. Itulah yang disebut para ahli sebagai Siwa-Budha Jawa — bukan “Hindu” sebagaimana dipahami di India maupun Bali.
- Dari Kediri ke Singhasari: Konflik Siwa dan Wisnu
Sebelum sinkretisme Majapahit terbentuk, Jawa sempat dilanda konflik ideologis antara dua kelompok: penganut Wisnu dari Kediri (Dhaha) dan penganut Siwa dari Singhasari.
Dalam novel sejarah Pramoedya Ananta Toer, tokoh-tokoh seperti Airlangga dan Kertajaya digambarkan sebagai raja Wisnu yang “men-Tuhankan diri sendiri”. Hal ini ditentang oleh Resi Lohgawe dan Ken Arok (pendiri Singhasari) yang membawa ajaran Siwa.
Konflik ini bukan sekadar politik, tetapi pertarungan pandangan teologis: apakah manusia bisa dianggap dewa (pandangan Wisnu), atau hanya perantara menuju Yang Tunggal (pandangan Siwa). Dari benturan inilah lahir perpaduan baru: Siwa-Budha Jawa, yang kemudian menjadi dasar spiritual Majapahit.
- Tengger: Pewaris Spiritual Majapahit
Ketika Majapahit runtuh pada abad ke-15, sebagian besar bangsawan, prajurit, dan rohaniawan yang setia pada kepercayaan lama mengungsi ke wilayah pegunungan Tengger.
Wilayah ini menjadi tempat persembunyian dan pelestarian ajaran Siwa–Budha yang kemudian hidup dalam bentuk ritual khas seperti Yadnya Kasada, Karo, dan Entas-entas.
Robert W. Hefner dalam Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam (Princeton University Press, 1985) menyebut masyarakat Tengger sebagai “spiritual survivors of Majapahit” — pewaris langsung Majapahit secara keagamaan dan kultural.
- Dukun, Danyang, dan Mangku: Sistem Religi yang Beda dengan Hindu Bali
Dalam sistem ritual Tengger, tidak dikenal kasta Brahmana sebagaimana di Bali. Pemimpin spiritual mereka adalah dukun (atau pandhita), bukan pendeta kasta.
Kata “dukun” sendiri berasal dari akar kata Jawa Kuno “dhukun” atau “dhukunan”, yang berarti penjaga keseimbangan alam dan roh leluhur.
Dukun Tengger bertugas memimpin doa, menjaga harmoni antara manusia, alam, dan roh nenek moyang.
Struktur seperti ini lebih dekat dengan konsep bhiksu–resi pada masa Siwa–Budha Jawa, bukan sistem kasta India.
Selain itu, rumah-rumah masyarakat Tengger tidak memiliki punden atau sanggah merajan seperti di Bali.
Punden hanya ditemukan di tempat-tempat umum seperti pura Luhur Poten, bukan di tiap rumah.
Beberapa hotel di Bromo meniru bentuk pura Bali sebagai daya tarik wisata, padahal dalam budaya Tengger asli, pemujaan tidak dilakukan per rumah tetapi bersifat komunal di tempat sakral bersama.
- Kasada: Ritual Gunung Brahma yang Tak Ada di Bali
Upacara Yadnya Kasada menjadi bukti paling nyata bahwa sistem kepercayaan Tengger bukanlah Hindu Bali.
Ritual ini mempersembahkan hasil bumi dan hewan ternak ke kawah Bromo (Gunung Brahma), sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan dewa penjaga alam.
Nama “Bromo” sendiri berasal dari “Brahma”, dewa pencipta dalam tradisi Siwa, yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Jawa sebagai simbol kekuatan alam semesta.
Kasada tidak memiliki padanan di Bali. Umat Hindu Bali tidak mengenal persembahan langsung ke kawah gunung api.
Sebaliknya, ritual Bali seperti Nyepi, Galungan, atau Kuningan tidak ditemukan di Tengger.
Ini membuktikan bahwa sistem kepercayaan Tengger berkembang secara otonom dan arkais, mempertahankan unsur Siwa–Budha Jawa yang terputus di dataran rendah karena pengaruh Islam dan kolonialisme.
- Budha Tanpa Biara, Siwa Tanpa Lingga
Ciri khas lain yang menunjukkan keunikan spiritual Tengger adalah absennya simbol-simbol formal seperti patung Buddha atau lingga-yoni dalam pemujaan.
Mereka tidak menyembah bentuk, melainkan menghormati “roh suci” atau hyang yang diyakini bersemayam di gunung, pohon, dan tempat suci.
Ini menunjukkan bahwa Tengger lebih berorientasi pada praktik daripada dogma, mirip dengan sistem Tantra-Jawa yang dikenal di masa akhir Majapahit.
Zoetmulder (1982) dalam Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang menulis bahwa budaya Jawa Kuno selalu menekankan kesatuan antara alam, dewa, dan manusia — sebuah pandangan yang tetap hidup di Tengger hingga kini.
- Identifikasi Modern dan Politik Agama
Ketika pemerintah Indonesia di era 1960-an menetapkan lima agama resmi, kepercayaan lokal seperti Tengger harus menyesuaikan diri agar tidak dicap “ateis” atau bahkan “komunis”.
Karena ritual mereka paling mirip dengan Hindu (sama-sama memakai dupa dan sesaji), maka secara administratif mereka dikategorikan sebagai Hindu.
Namun, antropolog seperti Hefner dan Koentjaraningrat sepakat bahwa Hindu Tengger ≠ Hindu Bali, karena perbedaan struktur sosial, teologi, dan fungsi ritualnya.
- Kesimpulan: Tengger, Siwa–Budha, dan Ingatan Majapahit
Dari seluruh bukti filologis, arkeologis, dan antropologis, dapat disimpulkan bahwa agama asli Tengger adalah kelanjutan dari ajaran Siwa–Budha Majapahit, bukan Hindu Bali maupun Buddha India.
Gunung Bromo (Brahma) menjadi pusat sakralitas, bukan karena pengaruh India, tapi karena tafsir lokal atas kosmologi Siwa yang diadaptasi oleh budaya agraris Jawa Timur.
Dalam arti ini, masyarakat Tengger adalah penjaga ingatan spiritual Majapahit — bukan museum masa lalu, melainkan living culture yang terus hidup di punggung gunung berapi.
Referensi
- Haryati Subadio (1973). Religiositas Jawa: Siwa–Budha. Jakarta: UI Press.
- Robert W. Hefner (1985). Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton University Press.
- P. J. Zoetmulder (1982). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
- Pramoedya Ananta Toer (1985). Arok Dedes. Jakarta: Hasta Mitra.
- Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
- Al-Makin (2016). “Unearthing Nusantara’s Concept of Religious Pluralism.” Al-Jāmiʿah: Journal of Islamic Studies.
✨ Catatan redaksi wisatabromo.co:
Artikel ini tidak bermaksud menegasikan keyakinan pihak mana pun, melainkan mengajak pembaca memahami akar budaya dan spiritual masyarakat Tengger sebagai warisan sejarah Nusantara yang sangat berharga.
