Pendahuluan
Di balik dinginnya udara Bromo, masyarakat Tengger menyimpan salah satu warisan bahasa tertua di Nusantara. Bahasa Tengger—atau Basa Tengger—bukan sekadar dialek, melainkan fosil hidup dari bahasa Jawa Kuno (Kawi) yang bertahan tanpa banyak tersentuh oleh perubahan zaman. Di tengah derasnya pengaruh Jawa Baru dan Bahasa Indonesia, masyarakat Tengger masih berbicara dengan nada dan kosakata yang mengingatkan kita pada masa Majapahit.
Bahasa yang Bertahan dari Perubahan
Bahasa Tengger termasuk dalam rumpun bahasa Jawa Timur, namun memiliki ciri konservatif yang kuat. Di saat dialek pesisir dan Mataraman berkembang menjadi Bahasa Jawa Baru dengan sistem krama-ngoko, bahasa Tengger justru mempertahankan bentuk-bentuk lama yang lebih sederhana dan egaliter. Robert Hefner menyebutnya sebagai “living remnant of pre-Islamic Java,” yaitu bahasa yang lahir dari masyarakat agraris gunung dan tidak mengalami intervensi istana Mataram.[1]
Ciri paling menonjol adalah pelafalan vokal /a/ yang tetap dipertahankan di akhir kata—misalnya sega (nasi), apa, sapa—sementara di wilayah pengaruh Mataram berubah menjadi /o/: sego, opo, sopo.[2]
Antara “Sega” dan “Sego”: Jejak Fonologi Majapahit
Perbedaan antara sega dan sego sering dianggap remeh, padahal di situlah jejak fonologi tua tersimpan. Dalam bahasa Jawa Kuno dan Pertengahan, vokal akhir /a/ diucapkan jelas, sebagaimana tercatat dalam prasasti dan naskah-naskah kuno seperti Kakawin Arjunawiwaha dan Sutasoma.[3]
Setelah pusat kekuasaan berpindah ke Mataram Islam, muncul pergeseran pelafalan menjadi /o/ yang akhirnya menjadi standar Jawa Baru. Namun wilayah seperti Tengger tetap mempertahankan bentuk lama.
Warisan dari Bahasa Jawa Kuno
Bahasa Tengger mempertahankan banyak kosakata yang bisa ditelusuri langsung ke bahasa Kawi atau Jawa Pertengahan. Berikut beberapa contohnya:[4][5]
| Kawi / Jawa Kuno | Bahasa Tengger | Arti |
|---|---|---|
| Bañu | Banyu | Air |
| Sega | Sega | Nasi |
| Ratu | Ratu | Pemimpin |
| Rama | Rama / Bapa | Ayah / Leluhur |
| Brama | Bromo | Dewa Api / Gunung Suci |
Kata-kata tersebut tidak hanya menunjukkan kontinuitas bahasa, tetapi juga kesinambungan spiritual.
Sistem Tutur yang Egaliter
Salah satu ciri menonjol bahasa Tengger adalah kesederhanaan tingkat tutur. Tidak ditemukan sistem tingkatan bahasa yang rumit sebagaimana dalam bahasa Jawa Baru.
Kesopanan diwujudkan melalui intonasi, konteks, dan sikap tubuh, bukan melalui perubahan kosakata atau tingkatan tutur.
Tegal dan Tengger: Dua Dunia yang Tak Tersentuh Mataram
Banyak orang heran mengapa logat Tengger terdengar mirip dengan Tegal atau Banyumas yang dikenal “ngapak.” Jawabannya: keduanya sama-sama tidak banyak tersentuh standardisasi bahasa Mataram Islam.
“Adoh ratu, cedhak watu — jauh dari raja, dekat dengan batu.”
Pengaruh Bunyi “O” dan Hipotesis Arabisasi
Beberapa peneliti mengaitkan perubahan bunyi a → o dengan pengaruh fonologi Arab pada era Islamisasi Jawa. Namun yang lebih masuk akal adalah faktor prestige linguistik dari pusat kekuasaan.
Bahasa Tengger dalam Ritus dan Kehidupan
Bahasa Tengger bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga bahasa ritual. Dalam upacara Yadnya Kasada, doa-doa dan mantra masih menggunakan bentuk arkais.
Oleh karena itu, dokumentasi dan pelestarian bahasa ini sangat penting. Setiap kata adalah kunci menuju sejarah spiritual Majapahit yang hidup dalam keseharian masyarakat Bromo.
Penutup
Bahasa Tengger adalah jendela menuju masa lalu. Ia menunjukkan bahwa tidak semua warisan Jawa berasal dari istana Mataram; di lereng Bromo, bahasa Majapahit masih hidup dalam bentuk yang sederhana, lugas, dan egaliter.
Setiap kali seorang petani Tengger berkata “sega,” ia sebenarnya sedang menuturkan bahasa leluhur dari abad ke-14.
Catatan Kaki
- Robert W. Hefner, Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam, Princeton University Press, 1985.
- Haryati Subadio, Religiositas Jawa: Siwa–Budha, Pustaka Sinar Harapan, 1973.
- S.O. Robson, Old Javanese and Its Relationship to Modern Javanese, 1984.
- P.J. Zoetmulder, Old Javanese–English Dictionary, 1982.
- Ayu Sutarto, Sekilas Tentang Masyarakat Tengger, 2004.
- Willem H. O. Kortschak, The Tengger Dialect of East Java, 1972.
- Bambang Kaswanti Purwo, Perubahan Fonologi Bahasa Jawa, 1997.