Gaya Bersarung Perempuan Suku Tengger: Simbol Status Sosial dan Identitas Budaya

Makna Empat Letak Simpul Sarung: Dari Pundak Kanan hingga Pundak Kiri

Pendahuluan

Salah satu identitas visual yang paling khas dari Suku Tengger adalah penggunaan sarung — tidak hanya untuk laki-laki, tetapi juga untuk perempuan dengan variasi cara pemakaian yang bermakna status sosial. Artikel ini menggali secara mendalam makna budaya penggunaan sarung oleh perempuan Tengger, bagaimana letak simpul sarung menandakan status (gadis, bersuami, hamil, janda), serta bagaimana ini mencerminkan nilai-nilai sosial, gender, dan identitas komunitas. Kajian ini menggunakan pendekatan etnografi dan simbolisme menurut penelitian lokal.

Sarung sebagai Identitas dan Busana Sehari-hari

Dalam penelitian “Budaya Bersarung Masyarakat Kontemporer” oleh Damajanti (2022), disebutkan bahwa sarung tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga sebagai alat komunikasi sosial yang mencerminkan identitas kolektif. Untuk masyarakat Tengger, pemakaian sarung telah melewati fungsi utilitarian (menghangatkan tubuh di dataran tinggi) menjadi simbol status dan adat. Artikel dari DetikJatim menyebut bahwa “sarung bagi perempuan Tengger […] menunjukkan status sosial mereka di masyarakat. Hal ini dapat terlihat dari letak simpul”.

Empat Letak Simpul Sarung dan Maknanya

Penelitian yang dikutip di artikel DetikJatim (2023) mengidentifikasi empat cara pemakaian sarung oleh perempuan Tengger dengan makna berbeda:

  1. Simpul di pundak kanan → menandakan gadis dewasa yang siap menikah.
  2. Simpul di dada → menandakan perempuan telah bersuami.
  3. Simpul di leher belakang → menandakan perempuan sedang hamil; ujung sarung menjuntai di depan untuk melindungi kehamilan.
  4. Simpul di pundak kiri → menandakan perempuan yang tidak memiliki suami (janda atau telah bercerai).

Makna ini telah ditemukan melalui pengamatan lapangan dan data dari jurnal Universitas Gadjah Mada serta repositori Universitas Muhammadiyah Jember.

Simbolisme Sosial dan Gender

Gaya bersarung perempuan Tengger bukan sekadar soal mode, tetapi ekspresi nilai sosial dan gender yang khas. Dalam studi “Manifestasi Folklor Roro Anteng: Signifikansi Peran Perempuan dalam Kehidupan Masyarakat Tengger” oleh Ramiyati et al. (2023) ditemukan bahwa perempuan Tengger memiliki peran penting dalam rumah tangga dan sosial tanpa adanya pembagian pekerjaan yang sangat berbeda berdasarkan gender.

Penggunaan sarung yang menandai status sosial (gadis/bersuami/hamil/janda) menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya objek status, tetapi agen yang secara simbolik dikenali dalam komunitas: mereka memiliki identitas yang terlihat secara visual dan terintegrasi dalam adat.

Pemakaian Sarung dalam Konteks Lingkungan Pegunungan

Beberapa orang mungkin mengira pemakaian sarung oleh masyarakat Tengger sekadar karena hawa dingin di dataran tinggi. Liputan Liputan6 menyebut bahwa meskipun suhu dingin di Bromo-Semeru, pemakaian sarung oleh masyarakat Tengger bukan hanya untuk menghangatkan, tetapi telah menjadi bagian budaya tersendiri.

Dengan demikian, sarung memiliki dua dimensi: utilitarian dan simbolik. Dalam kondisi cuaca yang dingin, sarung memberikan kenyamanan fisik; dalam ritual sosial, ia menjadi medium simbol yang kaya makna.

Evolusi dan Pelestarian Budaya

Dalam repositori Universitas Yudharta Pasuruan ditemukan penelitian yang menyebut “Sarung sebagai Simbol dalam Mempertahankan Kebudayaan Suku Tengger (Analisis Interaksionisme Simbolik Makna-Makna Sarung Suku Tengger di Kabupaten Pasuruan)”, yang menelaah bagaimana generasi muda Tengger memahami dan meneruskan makna sarung.

Penelitian semacam ini menunjukkan bahwa walau zaman berubah (pariwisata, modernisasi, ekonomi), sarung tetap menjadi jangkar identitas komunitas. Hal ini penting bagi pelestarian budaya — bahwa pakaian bukan hanya estetika, tetapi memuat makna dan kesinambungan tradisi.


Kesimpulan

Gaya bersarung perempuan Suku Tengger adalah lebih dari sekadar kain yang dililitkan. Ia adalah simbol identitas, status sosial, dan kontinuasi budaya. Letak simpul sarung menandai proses hidup (gadis, bersuami, hamil, janda) dan memberi perempuan Tengger sebuah pengakuan visual dalam adat dan komunitas mereka.

Dalam era modern di mana identitas budaya mudah terkubur oleh pariwisata massal atau homogenisasi global, sarung perempuan Tengger menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini — antara adat leluhur dan tantangan masa depan.


Referensi

Ramiyati, Asmi; Choirun Nisa, Feri; Jakti, Swa Sekar; Kutanegara, Pande Made. “Manifestasi Folklor Roro Anteng: Signifikansi Peran Perempuan dalam Kehidupan Masyarakat Tengger.” Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH), Vol. 11, No.1. DOI:10.23887/jish.v11i1.39093.

Damajanti, Maria Nala. “Budaya Bersarung Masyarakat Kontemporer.” Biokultur, Vol. 11, No.1 (2022).

“4 Gaya Bersarung Perempuan Tengger dari Gadis hingga Janda.” Nabila Meidy Sugita, detikJatim, 21 Sep 2023.

“Pakaian Suku Tengger Identik Sarung, Ini Makna dan Simbolisnya.” Albert Benjamin Febrian Purba, detikJatim, 20 Jun 2024.

“Sarung sebagai Simbol dalam Mempertahankan Kebudayaan Suku Tengger (Analisis Interaksionisme Simbolik…)” Universitas Yudharta Pasuruan, repositori elektronik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Login