Gunung Brahma: Ketika Dewa India Menjadi Jiwa Jawa

(Sebuah Kajian Historis dan Kultural tentang Asal-usul Spiritualitas Bromo dan Masyarakat Tengger)


Pendahuluan: Gunung, Api, dan Nama yang Menjadi Jiwa

Gunung Bromo, salah satu ikon alam paling terkenal di Nusantara, menyimpan kisah yang jauh melampaui pemandangan matahari terbitnya. Di balik pesona kabut dan pasir lautannya, Bromo menyimpan lapisan makna tua yang berakar dalam sejarah Majapahit, dalam tradisi Siwa–Budha, dan dalam bahasa Sanskerta yang menjelma menjadi Jawa.

Nama “Bromo” sendiri dipercaya berasal dari “Brahma”, salah satu dewa utama dalam ajaran Weda India. Namun, seiring waktu dan interaksi budaya, konsep Brahma dalam kosmologi Jawa berubah: ia tidak lagi hanya dewa pencipta, melainkan simbol kesadaran, api kehidupan, dan daya yang menjaga keseimbangan semesta.


Dari Brahma ke Bromo: Jejak Fonetik dan Filsafat

Secara etimologis, kata Brahma dalam lidah Jawa mengalami asimilasi fonetik menjadi Bromo (atau Brama dalam dialek Tengger). Penelitian Robert W. Hefner (1985) menyebut bahwa masyarakat Tengger masih menyebut gunung ini sebagai Gunung Brama, bukan Bromo.

Transformasi ini tidak sekadar perubahan bunyi, melainkan perubahan makna. Dalam kosmologi India, Brahma adalah sang pencipta dunia — bagian dari trimurti bersama Wisnu (pemelihara) dan Siwa (pelebur). Namun dalam tafsir Jawa kuno, terutama sejak masa Singhasari dan Majapahit, Brahma bukan figur antropomorfis, melainkan lambang daya api penciptaan — kekuatan yang menghidupkan dan sekaligus memurnikan.

Haryati Subadio (1973) menyebut bahwa pada era Majapahit, konsep Brahma diinterpretasi ulang sebagai “api kesadaran” — daya yang menuntun manusia memahami dirinya sebagai bagian dari alam. Maka tidak heran jika gunung berapi yang aktif, yang menghembuskan asap dan menyala di perut bumi, diberi nama Brahma.


Siwa, Wisnu, dan Api yang Menyala di Timur Jawa

Dalam novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer, disebutkan konflik antara penganut Wisnu dan Siwa di masa Airlangga hingga Ken Arok. Airlangga dan Kertajaya mewakili aliran Wisnu, sedangkan Ken Arok, dengan bimbingan Resi Lohgawe, mewakili ajaran Siwa.

Resi Lohgawe yang datang dari India Selatan membawa ajaran Siwa murni — sebuah ajaran yang menolak pemujaan berlebihan pada manusia atau raja sebagai dewa. Dalam dialog rekaan Pramoedya, Lohgawe menegur para pemuja Wisnu yang menganggap raja titisan Tuhan. “Tiada manusia menjelma dewa,” demikian kira-kira maknanya.

Konflik filosofis itu kemudian membentuk dasar spiritual kerajaan Singhasari dan Majapahit: ajaran Siwa–Budha, yang menyatukan kekuatan pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu), dan pelebur (Siwa) ke dalam satu konsep: “Tan Hana Dharma Mangrwa” — tiada kebenaran yang mendua.

Gunung Bromo, dalam konteks itu, menjadi simbol api purba dari ajaran Siwa: membakar kegelapan ketidaktahuan, menyucikan jiwa, dan mempersatukan manusia dengan alam.


Brahma dalam Tafsir Siwa–Budha Majapahit

Dalam kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular — yang melahirkan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” — disebutkan bahwa Siwa dan Buddha adalah satu dalam kebenaran sejati. Di sini Brahma bukan dewa berdiri sendiri, melainkan unsur kesadaran yang muncul dari Siwa.

P.J. Zoetmulder (1982) menjelaskan bahwa dalam filsafat Jawa Kuno, Brahma dianggap sebagai “api dari kesadaran Siwa”. Api yang mencipta dan membakar bukan simbol penghancuran, tetapi simbol kelahiran kembali. Maka, gunung berapi seperti Bromo menjadi pusat spiritual yang melambangkan proses kosmis: kelahiran, kehidupan, dan pelepasan.


Asal-usul Spiritual Tengger: Pelarian Majapahit

Setelah Majapahit runtuh pada abad ke-15, sebagian penganut Siwa–Budha memilih bertahan di daerah pegunungan timur, yang kini dikenal sebagai kawasan Tengger. Nama Tengger sendiri diyakini berasal dari kata tenger yang berarti “tetap”, “abadi”, “tidak tergoyahkan”.

Robert Hefner (1985) menulis bahwa komunitas Tengger adalah keturunan langsung dari pelarian Majapahit, yang mempertahankan sistem spiritual Siwa–Budha mereka, dengan ritual dan bahasa yang nyaris tak berubah selama ratusan tahun.

Di sinilah ajaran Brahma, Siwa, dan Budha berbaur dalam bentuk lokal: tidak ada patung Brahma seperti di India, tidak ada pura pribadi seperti di Bali — yang ada adalah gunung itu sendiri sebagai lambang kekuatan Brahma.


Bromo sebagai Brahma: Simbol Api Kehidupan

Bagi masyarakat Tengger, Gunung Bromo bukan sekadar gunung, melainkan pusat kosmos. Kawahnya menjadi lambang perut bumi, tempat kekuatan Brahma bersemayam.

Upacara Kasada — yang sering dianggap sebagai persembahan kepada “dewa gunung” — sejatinya merupakan yadnya, upacara pemurnian yang berakar dari ajaran Siwa–Budha. Haryati Subadio (1973) menyebut Kasada sebagai “yadnya api”, persembahan simbolik untuk menjaga harmoni antara manusia dan kekuatan pencipta.

Dalam praktiknya, masyarakat Tengger melempar hasil bumi ke kawah Bromo bukan untuk “memberi makan dewa”, melainkan untuk mengembalikan sebagian rezeki kepada alam — sebuah bentuk karma yajña (balas budi terhadap penciptaan).


Perbedaan dengan Hindu Bali: Jiwa yang Tetap Jawa

Walaupun kini secara administratif banyak masyarakat Tengger tercatat sebagai umat Hindu, praktik spiritual mereka berbeda dari Hindu Bali.

Koentjaraningrat (1984) mencatat bahwa masyarakat Tengger tidak memiliki pura keluarga seperti di Bali. Tempat ibadah mereka bersifat komunal, biasanya di balai desa atau di tepi gunung.
Selain itu, ritual seperti Galungan, Kuningan, atau Tumpek Landep tidak dikenal di Tengger. Sebaliknya, mereka memiliki ritual khas seperti Kasada, Karo, Unan-unan, dan Entas-entas.

Hal menarik lainnya, banyak hotel atau resort di sekitar Bromo kini meniru arsitektur pura Bali dengan punden kecil dan canang sari, padahal tradisi rumah Tengger sejatinya tidak mengenal punden pribadi. Pemujaan mereka bersifat kolektif, bukan privat — cerminan filosofi Jawa lama: urip iku urup (hidup adalah nyala yang menyinari sesama).


Brahma dan Api Kesadaran: Refleksi dari Gunung

Ketika matahari terbit dari balik Gunung Semeru dan cahayanya menyentuh kawah Bromo, masyarakat Tengger menyebutnya sebagai pangadegane srengenge, kebangkitan api Brahma. Dalam momen itu, mereka percaya semesta kembali seimbang — seperti siklus penciptaan dalam ajaran Siwa–Budha.

Pramoedya dalam Arus Balik menulis,

“Api bukan hanya membakar. Ia mengubah, membersihkan, dan memulai segalanya dari awal.”

Itulah makna Brahma di Bromo: bukan dewa yang disembah, tetapi api kesadaran yang menyala di dada setiap manusia yang hidup selaras dengan alam.


Kesimpulan

Gunung Bromo bukan hanya lanskap alam, tetapi monumen spiritual Nusantara. Ia merekam perjalanan panjang dari ajaran Weda India, tafsir Siwa–Budha Majapahit, hingga menjadi jiwa lokal masyarakat Tengger.

Nama Brahma yang berubah menjadi Bromo bukan sekadar fonetik, melainkan perjalanan makna: dari mitos menjadi kesadaran, dari ritual menjadi harmoni.
Di sinilah Jawa menunjukkan jati dirinya — menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan inti: keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.


Rujukan

  1. Hefner, Robert W. (1985). Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton University Press.
  2. Subadio, Haryati (1973). Religiositas Jawa: Sinkretisme Siwa–Budha di Nusantara. Jakarta: Pusat Bahasa dan Kebudayaan.
  3. Zoetmulder, P.J. (1982). Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
  4. Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
  5. Toer, Pramoedya Ananta. Arok Dedes (1968) dan Arus Balik (1995).
  6. Mpu Tantular. Kakawin Sutasoma. (Abad XIV).
  7. Nagarakretagama, Mpu Prapanca. (Abad XIV).

Gunung Bromo bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah saksi hidup bagaimana ajaran Brahma berubah menjadi Bromo — dari api pencipta menjadi nyala kesadaran. Di sanalah, jiwa Jawa kuno masih hidup hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Login