Jejak Siwa–Budha di Punggung Tengger: Agama Asli Warisan Majapahit yang Bertahan di Lereng Bromo

Pendahuluan
Di balik keindahan Gunung Bromo yang menjadi ikon pariwisata Indonesia, tersimpan satu warisan budaya spiritual yang jarang disentuh secara mendalam: agama asli masyarakat Tengger. Selama puluhan tahun, masyarakat luas mengenal mereka sebagai “penganut Hindu Tengger”. Padahal, jika ditelusuri dari jejak sejarah, bahasa, hingga sistem kepercayaannya, ajaran asli masyarakat Tengger jauh lebih tua — bukan Hindu India, melainkan warisan sinkretik Siwa–Budha Majapahit.
Kepercayaan ini lahir dari perpaduan antara ajaran Siwaisme dari India Selatan dan Budhisme Tantrayana yang berkembang di Jawa Timur pada masa Singhasari dan Majapahit. Melalui jejak sastra, termasuk karya Pramoedya Ananta Toer, terlihat bahwa konflik keagamaan antara pengikut Wisnu dan Siwa turut melahirkan dinamika politik besar di Jawa Timur purba. Dari peristiwa inilah, lahir komunitas yang kemudian disebut Tengger, penjaga terakhir dari napas spiritual Majapahit di punggung gunung.
Pelarian Majapahit dan Lahirnya Masyarakat Tengger
Ketika Majapahit runtuh sekitar abad ke-15, banyak abdi kerajaan, resi, dan petani yang setia pada ajaran Siwa–Budha menyingkir ke daerah pegunungan. Mereka mencari tempat aman, jauh dari pusat politik dan konflik kerajaan pesisir yang mulai dikuasai Islam dan pengaruh luar.
Gunung Bromo, dengan kawah yang selalu mengepulkan asap, dianggap suci karena melambangkan Brahma, aspek pencipta dalam konsep kosmologi Siwa–Budha. Di lereng inilah mereka membangun komunitas baru yang dikenal dengan nama Tengger.
Nama “Tengger” sendiri berasal dari kata “Teng” (luhur, tinggi, teguh) dan “Ger” (gunung atau kekuatan). Secara simbolik berarti “yang teguh di tempat luhur” — mencerminkan semangat mereka mempertahankan ajaran lama di tengah arus perubahan zaman.

Majapahit dan Sinkretisme Siwa–Budha
Majapahit bukanlah kerajaan Hindu seperti yang sering disederhanakan dalam buku pelajaran. Berdasarkan prasasti dan naskah Kawi seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca, Majapahit menganut sistem Siwa–Budha, yakni penyatuan dua jalan spiritual besar Nusantara.
Prinsip dasar ajaran ini dirangkum dalam semboyan “tan hana dharma mangrwa”, artinya tiada kebenaran yang mendua. Kalimat ini bukan slogan politik, melainkan filosofi spiritual yang menyatukan Siwa (kesadaran dinamis, pelebur dan pencipta) dengan Budha (kesadaran tenang, pencerahan).
Masyarakat Tengger hingga kini masih mempertahankan konsep harmoni Siwa–Budha itu dalam ritual dan pandangan hidup mereka: menghormati leluhur, menjaga kesucian alam, dan memelihara keseimbangan antara dunia manusia, roh, dan dewa.
Konflik Wisnu–Siwa: Kediri, Singhasari, dan Lahirnya Ideologi Baru

Sebelum Majapahit berdiri, Jawa Timur telah diwarnai konflik antara dua kekuatan spiritual: Wisnuistik Kediri dan Siwaistik Singhasari.
Menurut tafsir sastra dan sejarah yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Airlangga dan Kertajaya dari Kediri adalah pengikut aliran Wisnu — dewa pemelihara dan simbol raja suci (dewaraja). Dalam sistem itu, raja dipertuhankan sebagai titisan Wisnu. Namun, muncul kritik keras dari kalangan resi Siwa, terutama Resi Lohgawe, yang menganggap pengkultusan manusia sebagai dewa adalah penyimpangan dari dharma sejati.
Dikisahkan pula, Airlangga lahir dari kasta sudra, sehingga pengangkatannya sebagai dewa dianggap bertentangan dengan tatanan spiritual Weda. Pandangan ini menjadi dasar ideologis bagi Ken Arok dan Resi Lohgawe untuk menentang Kertajaya keturunan Airlangga dari Kediri.
Konflik itu bukan sekadar politik, tetapi perang ideologi: antara pemuja Wisnu yang menuhankan raja dan penganut Siwa yang menekankan bahwa hanya kesadaran tertinggi (Siwa) yang layak disembah. Dari kemenangan Singhasari, lahir generasi baru spiritualitas Jawa yang melahirkan sinkretisme Siwa–Budha Majapahit.
Dukun dan Mangku: Penjaga Ajaran Leluhur

Dalam tradisi Tengger, pemimpin keagamaan tidak disebut “pendeta” seperti dalam sistem Hindu Bali. Mereka dikenal sebagai Dukun Tengger dan (atau) Mangku.
Etimologi kata dukun berasal dari bentuk Jawa Kuna dhukun, yang bermakna penuntun, perawat, atau penjaga keseimbangan. Kata ini juga serumpun dengan bahasa Melayu Kuno daku (merawat, menyembuhkan). Jadi, dukun dalam konteks Tengger bukan paranormal, melainkan imam spiritual, penghubung manusia dengan roh leluhur dan kekuatan alam.
Para Dukun Tengger memimpin upacara adat seperti Kasada, Karo, Unan-unan, dan Entas-entas. Mereka hafal mantra Kawi, memahami kosmologi gunung, dan menjalankan peran sosial–spiritual sekaligus ekologis. Dalam masyarakat Tengger, agama tidak terpisah dari alam, melainkan menyatu dalam ritus dan siklus kehidupan sehari-hari.
Gunung Brahma (Bromo): Sumbu Kosmos Nusantara

Gunung Bromo berasal dari kata Brahma, dewa pencipta dalam kosmologi India kuno. Namun di Tengger, Brahma tidak disembah sebagai dewa terpisah. Ia dipahami sebagai energi penciptaan alam, sumber kehidupan yang suci.
Pemujaan terhadap gunung sebagai lambang kesucian sudah ada sejak masa pra-Hindu, ketika masyarakat Jawa mengenal konsep punden berundak — tempat arwah leluhur dipuja di puncak bukit. Tradisi itu bertransformasi di era Siwa–Budha menjadi pemujaan terhadap Gunung Brahma, simbol titik temu antara manusia dan kekuatan ilahi.
Upacara Yadnya Kasada, yang digelar setiap bulan Kasada, adalah manifestasi keyakinan ini. Masyarakat Tengger melemparkan hasil bumi, ternak, dan sesajen ke kawah Bromo sebagai tanda syukur kepada Sang Hyang Widhi, Brahma, dan para leluhur.
Menariknya, upacara Kasada ini tidak dikenal di Bali. Ini menjadi bukti bahwa tradisi Tengger bukan tiruan Hindu Bali, melainkan warisan langsung dari spiritualitas Majapahit.
Perbedaan dengan Hindu Bali

Banyak wisatawan mengira agama Tengger sama dengan Hindu Bali karena sama-sama menggunakan istilah seperti “upacara yadnya” dan “pura”. Namun sebenarnya ada perbedaan mendasar.
- Struktur tempat suci:
Di Bali, setiap rumah memiliki pura keluarga atau pelinggih kecil yang disebut punden. Di Tengger, tidak ada punden pribadi. Tempat suci bersifat komunal, seperti Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo.
Hotel-hotel di sekitar Bromo banyak membangun punden bergaya Bali sebagai daya tarik wisata, padahal itu bukan bagian dari tradisi Tengger. - Upacara dan kalender ritual:
- Tengger memiliki upacara khas seperti Kasada, Karo, Unan-unan, Entas-entas, dan Barikan.
- Bali punya Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Tumpek Landep, dan Ngaben, yang sama sekali tidak dikenal di Tengger.
- Bahkan Nyepi di Bali berbeda dengan di Tengger; di Tengger, Nyepi hanya disimbolkan dengan penyucian diri, tanpa ogoh-ogoh atau pawai besar.
- Sistem kepemimpinan spiritual:
Di Bali ada Pedanda Siwa dan Pedanda Budha (Brahmana), sedangkan di Tengger hanya ada Dukun Pandhita dan Mangku.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa ajaran Tengger adalah jalur spiritual lokal Majapahit, bukan adopsi Hindu Bali.
Masuknya “Hindu” sebagai Identitas Administratif

Pasca 1965, pemerintah Indonesia hanya mengakui lima agama resmi. Kepercayaan lokal seperti Tengger terancam dicap “tidak beragama” atau bahkan “komunis”. Demi bertahan, mereka menyesuaikan diri dengan agama yang paling mirip secara ritual, yakni Hindu Dharma.
Namun, penyesuaian ini bersifat administratif, bukan teologis. Sejak itu, istilah “Hindu Tengger” mulai digunakan dalam dokumen resmi, walau dalam praktiknya kepercayaan mereka tetap Siwa–Budha Nusantara.
Peneliti seperti Haryati Soebadio, Koentjaraningrat, dan Clifford Geertz mencatat bahwa sistem kepercayaan Tengger masih berpegang pada prinsip Majapahit: menghormati leluhur, menjaga kesucian gunung, dan hidup selaras dengan alam.
Upacara dan Filsafat Hidup Tengger

Ritual utama masyarakat Tengger berputar pada keseimbangan antara manusia dan alam.
- Kasada: upacara persembahan di kawah Bromo.
- Karo: peringatan leluhur dan kelahiran manusia baru.
- Unan-unan: penolak bala besar setiap 5 tahun.
- Entas-entas: pelepasan arwah ke alam suci.
- Barikan: doa bersama menjelang musim tanam atau bencana alam.
Setiap upacara memiliki struktur mantra, sesajen, dan pemaknaan yang berakar pada kosmologi Siwa–Budha: Tri Loka (bhurloka, bhuvarloka, swarloka), Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa), dan Tri Kaya (pikiran, ucapan, tindakan).
Namun, semua itu dijalankan dalam konteks lokal Jawa, tanpa hierarki kasta dan tanpa penyembahan terhadap patung dewa sebagaimana di India atau Bali.
Filsafat “Tan Hana Dharma Mangrwa”

Bagi masyarakat Tengger, kebenaran tidak pernah tunggal. Filsafat tan hana dharma mangrwa menjadi inti pandangan hidup mereka: tidak ada dharma yang ganda. Artinya, kebaikan dan kebenaran tidak terikat pada simbol, tetapi pada keseimbangan dan kesucian niat.
Inilah sebabnya mengapa masyarakat Tengger begitu toleran, terbuka pada wisatawan, namun tetap teguh menjaga kesucian gunung dan adat.
Kesimpulan
Agama asli suku Tengger bukan Hindu dalam arti sempit. Ia adalah sisa hidup dari spiritualitas Siwa–Budha Majapahit, sistem kepercayaan sinkretik yang pernah mempersatukan Nusantara.
Kepercayaan ini lahir dari sejarah panjang konflik dan penyatuan: dari pertentangan Wisnu–Siwa di masa Kediri–Singhasari, hingga pencarian harmoni di era Majapahit. Dalam masyarakat Tengger, ajaran itu bertahan bukan sebagai doktrin, tapi sebagai laku hidup, diwariskan lewat doa, ladang, dan asap dupa di kawah Brahma.

Di tengah modernitas dan wisata, suku Tengger tetap menjadi penjaga terakhir keyakinan lama Nusantara — keyakinan bahwa alam, leluhur, dan manusia adalah satu kesatuan suci.
Seperti gunung yang abadi di cakrawala, keyakinan mereka teguh dalam diam:
tan hana dharma mangrwa.
